Sobat Reseller ingin tahu resiko menjadi reseller karena mau memastikan kalau usaha reseller-nya dijalankan dengan aman dan menguntungkan?
Atau ingin memastikan kalau kualitas produk yang diberikan kepada konsumen cukup baik?
Tanpa berlama-lama lagi, ayo langsung saja kita bahas!
Apakah Menjadi Reseller Berisiko?
Menjadi reseller bisa dibilang risikonya cukup minim. “Minim” karena reseller tidak memproduksi barang dari awal dan menerima barang dalam kondisi sudah jadi.
Namun, menjadi reseller tetap memiliki tantangannya sendiri, kalau barang yang sudah dibeli dari supplier tidak laku. Kisah soal tantangan ini juga dibagikan oleh Teh Widiawati.
Seorang ibu yang bergabung sejak Oktober 2020 di Evermos ini mengungkapkan kalau tantangan menjadi reseller adalah “takut jika nanti produknya tidak laku”.
Meski begitu, dengan dukungan sang suami, Teh Widiawati menemukan strategi jualan yang tepat untuk bisnisnya. Strateginya ialah, Teh Widiawai menunggu ada pesanan dari konsumen terlebih dahulu kemudian baru ia membeli produk ke Evermos.
Walaupun risiko yang dihadapinya adalah pengiriman produk dari Evermos membutuhkan waktu cukup lama sehingga berpengaruh juga terhadap pengiriman produk ke customer tapi akhirnya, Teh Widiawati berhasil mendapat omset hingga 5 sampai 7 juta per bulan.
Bahkan, kini tokonya di marketplace sudah menjadi star seller, hebat bukan?
Jadi kesimpulannya, menjadi reseller memang berisiko minim tapi menjadi reseller tetap memiliki tantangannya tersendiri.
Apa Saja Resiko Menjadi Reseller?
1. Reseller Harus Stok Barang Terlebih Dahulu
Selain menjadi definisi dari reseller, reseller harus stok barang terlebih dahulu ke supplier baru bisa menjualnya ke customer juga menjadi risiko dari menjadi reseller.
Artinya, Sobat harus membeli barang dengan jumlah tertentu yang mau dijual dari supplier biar stoknya selalu tersedia waktu ada customer yang mau beli.
Berbeda dengan dropshipper yang sistemnya “tahu beres” alias semua barang langsung dikirim oleh supplier dengan menggunakan nama Sobat.
2. Barang yang Sudah Distok Sisa atau Tidak Laku
Nah, karena tadi Sobat Reseller sudah membeli banyak barang, risikonya bisa jadi barang yang sudah dibeli dari supplier tidak laku.
Risiko ini bisa terjadi salah satunya jika Sobat mengalami hal yang tidak diduga, seperti kecelakaan yang dialami oleh Mas Budi.
Mas budi adalah perintis brand fashion keluarga bernama Nomine. Pada Agusus 2022, Mas Budi haus menjalani operasi karena kecelakaan dan akhirnya memutuskan untuk vakum dari bisnisnya.
Ketika menjalani proses recovery, Mas Budi mengaku kalau banyak produk jualannya yang menumpuk. Akhirnya, ia memutuska untuk hanya fokus menjual prodk sisa sehingga selajutnya bisa produksi barang yang baru lagi.
3. Butuh Menemukan Strategi Marketing yang Tepat
Meski menjadi reseller terdengar mudah karena Sobat hanya perlu membeli barang dari supplier kemudian menjualnya lagi, sebenarnya Sobat Reseller tetap perlu memahami apa winning product yang tepat untuk Sobat jual kembali.
Hal ini seperti yang dijalan oleh Teh Santi. Sebelum menjadi reseller di Evermos, ia mempelajari aplikasi Evermos terlebih dahulu.
Saat sedang mempelajarinya, Teh Santi menemukan produk kasur InTheBox yang menurutnya untik dan ada potensi untuk viral.
Nah karena harganya cukup besar dan bukan termasuk kebutuhan harian, kemudian ia berpikir apa strategi yang tepat agar bisa closing. Tercetuslah ide, agar Teh Santi mengadakan arisan sebagai strategi jualan.
Teh Santi bekerja dengan beberapa reseller lain untuk arisan dan akhirnya bisa bergiliran closing. Usaha Teh Santi berbuah manis, ia bisa membantu beberapa reseller untuk mendapatkan omset sampai Rp5 jutaan.
4. Modal yang Lebih Besar
Penjelasannya mirip-mirip kayak poin pertama karena harus stok barang terlebih dahulu tentu Sobat Reseller harus menyiapkan modal untuk membeli stok barang-barangnya.
Selain modal uang untuk membeli stok barang, Sobat Reseller juga penting untuk menyiapkan tempat menyimpan stok barang jualan dari supplier.
5. Harus Siap Mengemas Pengirimannya Sendiri
Kenapa? Karena stok barangnya sudah ada di tempat Sobat Reseller berada. Jadi, Sobat mesti siap ya, untuk mengemas pengirimannya sendiri.
Dengan mengemas pengirimannya sendiri, Sobat juga bisa memastikan kalau barang yang dikirim tidak memiliki kecacatan dan siap untuk dipasarkan ke customer.
6. Minimal Harus Punya Handphone & Internet
Bagi Sobat Reseller yang belum punya toko fisik, satu-satunya sarana untuk menjual barang adalah marketplace, bukan?
Nah, risiko yang harus dihadapi saat menjual barang-barang reseller adalah memiliki media komunikasi berupa handphone dan tentunya internet.
Jangan lupa, agar Sobat memahami cara pakai dan cara bekerja marketplace yang digunakan untuk bekerja, yah!
Amankah Menjadi Reseller di Aplikasi Evermos?
Menjadi Reseller di Evermos sangat aman dan menguntungkan. Apalagi, di Aplikasi Evermos ada fitur-fitur yang membantu menunjang penjualan Sobat Reseller.
Beberapa di antaranya, seperti fitur Kelola Data yang digunakan untuk memasukkan atau memperbaiki data produk atau fitur Atur Waktu Pickup, fitur y ang digunakan untuk mengatur waktu pesanan diemput.
Bagimana? Apakah Sobat Reseller sudah siap memaksimalkan potensi bisnis di bulan Ramadan? Pas banget, program #JagoanRamadan dari Evermos hadir sebagai solusi yang tepat buat Sobat Reseller yang ingin meraih kesuksesan di bulan yang penuh berkah ini.
Bukan hanya platform reseller biasa, Evermos telah dipercaya lebih dari 500.000 reseller aktif di seluruh Indonesia dan hadir di lebih dari 500 kota di Indonesia! Jadi, nggak heran kalau Evermos mendapatkan rating 4.8/5 di Playstore dan Appstore.
